Oleh : Rahmat Hidayat Nasution

Lisan merupakan karunia yang sangat ‘mahal’ dan vital bagi manusia. Tanpa lisan, barangkali hidup bagi manusia tiada artinya. Dengan lisan, manusia dapat mengenal rasa dan dapat berbicara dengan sesama.

Dengan lisan pula manusia dapat berkomunikasi tanpa mengalami kesusahan. Selain itu, manusia bisa juga mulia dengan lisannya tersebut. Begitupun sebaliknya, manusia bisa hina karena lisannya. Hina, karena tidak bisa menggunakannya sesuai kehendak dan aturan-aturan yang ditetapkan penciptanya.

Banyak sekali hadits Rasulullah Saw. yang menganjurkan kita untuk selalu menjaga lisan. Bahkan Rasulullah juga sering mengecam orang yang tidak pandai menjaga lisannya.

Rasulullah pernah berpesan: ”Barang siapa yang diam (tidak banyak bicara) maka dia akan selamat” (H.R. At-Tarmizi).

Dalam hadits lain disebutkan, Al-Ma’shum Saw. juga pernah berwasiat: “Barang siapa yang bisa menjamin (keselamatan) antara dua rahangnya (lisan) dan dua kakinya (faraj) maka aku menjamin baginya surga” (H.R. Bukhari).

Lisan ibarat pisau bermata dua, bila digunakan pada hal-hal yang baik maka akan mendatangkan kemaslahatan (kebaikan). Namun sebaliknya, bila digunakan pada hal-hal yang buruk, kemudhratan pun akan mengiringinya.

Karena itu, Imam Al-Ghozâli dalam kitab Ihya’nya memaparkan bahwa ada sekitar 20jenis penyakit yang sering menjangkiti lisan manusia. Di antaranya:

Pembicaraan yang tidak Bermanfaat

Sering sekali manusia terlena dan lalai dengan ucapannya. Tanpa kita sadari, kadang-kadang waktu berlalu begitu saja karena asyik dengan obrolan yang sia-sia.

Seorang mukmin, seharusnya dapat memilah dan memilih kapan dan di mana dia harus berbicara. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. pernah mewanti-wanti dalam sabdanya: “Salah satu tanda kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan yang tidak bermanfaat baginya” (H.R. At-Tarmizi).

Yang dimaksud dengan “tidak bermanfaat” dalam hadits tersebut antara lain, muncul melalui lisan seperti ghibah, fitnah, menggunjing, berbohong dll.

Padahal, pembicaraan yang tidak berarti sama sekali hanya membuang-buang waktu, dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Banyak orang yang tidak mengetahui batasan-batasan perkataan yang bermanfaat ataupun tidak bermanfaat, sehingga mengakibatkan kebiasaan baginya.

Pada akhirnya nanti, kebiasaan yang tidak diketahui baik-buruknya itu sulit untuk merubahnya. Secara singkat mungkin bisa kita katakan bahwa batasan baik atau buruknya perkataan seorang adalah diamnya, tidak mengakibatkan celaka bagi orang lain dan tidak mengakibatkan rugi terhadap dirinya sendiri.

Perdebatan dan Pertengkaran

Perdebatan dan pertengkaran acapkali berbuntut pada perpecahan. Debat kusir yang tidak berakhir selalu saja menimbulkan polemik. Kalau perdebatan dalam mencari kebenaran, masih diterima sebagai amal. Tapi, kebenaran yang sudah jelas pun sering sekali menjadi bahan pertengkaran, sehingga mengakibatkan permusuhan satu dengan yang lain.

Makanya, Rasulullah Saw. melarang umatnya yang suka perdebatan seraya bertutur: “Tidaklah sesat suatu kaum (dahulu) setelah Allah menunjuki mereka, kecuali karena mereka suka berdebat atau bertengkar” (H.T. At-Tarmizi). Dalam sabdanya yang lain, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Tidak sempurna iman seorang hamba hingga dia meninggalkan pertikaian dan perdebatan walaupun dia dalam posisi benar” (H.R. Ibnu Abi ad-Dunya).

Suka Melaknat

Marah sering kali membawa seseorang lupa diri, sehingga kata-kata yang terucap dari kedua bibirnya mengakibatkan tidak terkendali. Perkataan jorok dan melaknat kerap kali keluar tanpa dia sadari.

Melaknat, baik kepada benda mati, binatang atau manusia tetap saja dilarang oleh Rasullah Saw. Bahkan, Rasulullah pernah menegur Abu Bakar ra., karena beliau melaknat budaknya.

Kata Anas ra. ”Seseorang pernah dimarahi oleh Baginda Saw. karena melaknat kuda tunggangannya, seraya berkata: wahai Abdullah, jangan engaku berjalan bersama kami di atas tunggangan yang terlaknat”

Bercanda yang Berlebihan

Sejatinya canda itu lebih identik dilarang oleh Raulullah Saw. kecuali pada hal-hal yang sewajarnya. Sabda Rasulullah: “Jangan kamu mendebat saudaramu dan jangan kamu mencandainya” (H.R. At-Tarmizi). Artinya, canda terhadap sesama selama dalam batas-batas yang wajar tidaklah dilarang. Akan tetapi, yang sering terjadi ketika canda sudah melebihi batas, sehingga aib sesama tidak jarang terbongkar gara-gara canda yang berlebihan.

Imbasnya, berbuntut pada putusnya hubungan silaturahmi bahkan teman bisa menjadi lawan hanya karena canda yang berlebihan.

Mengejek dan Mencemoohkan orang lain

Allah SWT. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi orang (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain, karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan). (Q.S. Al-Hujurat:11 ).

Mengejek, baik terhadap cacat sesorang atau ras seseorang sangat dikecam oleh Nabi Saw. Bahkan seorang sahabat Salman al-farisi ditegur oleh Nabi Saw. karena ketahuan memanggil nama Bilal (muadzdzin Rasul Saw), dengan sebutan ibn sauda (anak orang hitam).

Ghibah (gosip)

Secara singkat, ghibah (gosip) bisa diartikan dengan menyebut atau menceritakan hal yang tidak baik dari pribadi sesorang. Sehingga, jika yang diceritakan mengetahuinya akan mnimbulkan permusuhan diantara keduanya. Biasanya, sesorang yang suka mengghibah tidak akan tenang jika melihat orang bahagia, senang dan gembira.

Karena itu, Rasululullah sangat ‘melarang keras’ memiliki sifat suka mengghibah. Sebagaimana diriawayatkan dari Jabir dan Abi Said (mereka) berkata; Nabi Saw. Bersabda: ”hati-hatilah dengan ghibah, karena ghibah lebih berbahaya (dosanya) dari zina, sesungguhnya orang yang berzina jika bertaubat, Allah akan menerimanya, sedangkan orang yang menggibah tidak akan diterima, selama orang yang diceritai tidak memaafkan”.

Namimah (mengadu domba);

Adu domba adalah pekerjaan yang sangat dikecam oleh Allah Swt. Karena adu domba adalah kebiasaan setan untuk menimbulkan perkara dikalangan sesama. Kalau ghibah seperti yang dipaparkan di atas hanya sekedar menyebut-nyebut tentang sesorang, yang jika dia tidak senang, maka berdosalah si pelaku ghibah. Namun, jika menyebut dan menceritakan kebaikan sesorang, justru bisa menjadi pahala baginya.

Berbeda dengan namimah (adu domba), ghibah lebih kepada ingin melaga antara dua orang yang awalnya bersahabat akhirnya bermusuhan. Adu domba tidak saja dari perkataan, namun bisa juga dengan isyarat atau surat dsb. Kata Nabi Saw.”Tidakkah kamu ingin aku beritahukan orang yang paling jahat diantara kamu? Kata sahabat: “tentu wahai Rasulullah” kemudian nabi menyebutkan adu domba salah satunya.” (HR. Ahmad dari Abu Malik al-Asy’ari)

Memuji berlebihan;

Adalah sifat manusia ingin selalu dipuji. Namun, terkadang yang memuji terlalu berlebihan sehingga sampai pada batas dusta. Pernah seorang sahabat memuji sahabat yang lain (dengan berlebihan), lalu Nabi Saw. mendengarnya seraya berkata ”Celakalah engkau, karena engkau (seolah-olah) telah memotong leher saudaramu, sekalipun dia senang mendengar apa yang kau ceritakan.”

Kebiasaan seperti ini, sering kita jumpai ketika sesorang ingin mendapatkan maslahat dari yang dia puji. Karena itu, tak salah bila Umar bin Khattab berkata: “Pujian itu seperti sayatan” Artinya, bahwa ketika kita memuji sesorang dengan berlebihan sama saja kita menyayat-nyayat lehernya.

Oleh karena itu, marilah kita jaga lisan kita dari segala ‘penyakit-penyakit’ yang dapat membuat kita terjerumus dalam ‘kubang’ dosa dan membuat kita ‘terkucilkan’ oleh masyarakat sekitar kita, hanya karena salah menggunakan lisan.