Kali pertama pilkada DKI jakarta digelar pada agustus 2007 ini, dua kandidat yang muncul adalah Adang Darajatun-Dani Anwar dan Fauzi bowo-Prijanto. Adang-Dani merupakan pasangan yang diusung oleh PKS, sedangkan Fauzi-Prijanto didukung oleh multi partai, kurang lebih 20 partai.

Saat tulisan ini dibuat masa kampanye kedua calon telah selesai tinggal masa tenang. Namun, pada masa tenang ini muncul kampanye lewat belakang yang salah satunya seperti pada brosur di samping.

Jika anda warga Jakarta atau warga daerah manapun, apa yang terbesit dalam benak anda apabila membaca brosur disamping ?

Inilah salah satu fenomena hajatan pertama orang jakarte dalam pemilihan gubernurnya. Entah apa maksudnya, yang jelas isi kalimat dalam brosur ini menggambarkan siapa pembuatnya.

Pembuatnya takut apabila pasangan yang dimaksud menang, karena segala modal yang mungkin telah ia keluarkan akan sirna begitu saja tanpa ‘istilahnya’ mendapatkan proyek yang ia inginkan.

Selain itu brosur ini membuktikan sikap pengecutisme dari pembuatnya. Padahal dengan ini justru akan merugikan Fauzi-Prijanto karena mereka akan dinilai tidak bermoral meski mereka sama sekali tidak tahu masalah ini. Apalagi kalau mereka tahu dan sengaja melakukan propaganda seperti ini.

Media Tak Berimbang

Satu lagi masalah yang timbul pada Pilkada DKI yang pertama ini adalah media masa yang memberitakan tentang Pilkada tidak berimbang. Banyak media yang lebih condong terhadap salah satu pasangan calon. Hal ini dapat dilihat dari ungkapan-ungkapan yang ada pada beberapa kolom yang membahas Pilkada.

Apabila ia membahas calon yang satu misalnya, sebut saja Fauzi-Prijanto maka ia akan mengomentari dengan nada yang positif. Akan tetapi apabila ia membahas pasangan Adang-Dani maka komentarnya cenderung negatif.

Selain itu, ada satu lagi yang agak mencolok yaitu pada quick count yang diadakan oleh kompas. Pada rubrik ini dipampang kedua pasang calon tetapi dengan kualitas gambar yang berbeda. Pasangan Fauzi-Prijanto dipampang dengan gambar yang sangat mulus sehingga gamarnya jelas. Tetapi gambar pasangan Adang-Dani dipasangan dengan gambar yang jelek dan hampir sama sekali tidak dapat dikenali. Mungkinkah ada unsur kesengajaan?

Dalam sebuah stasiun radio juga diberitakan bahwa beberapa media masa tidak berimbang dalam menyampaikan beritanya.

Sebagai media untuk publik semestinya mereka bersifat dewasa, jangan mementigkan ego masing-masing. Dengan demikian maka suasana yang kondusif kedepannya akan dapat kita nikmati sebagai warga Jakarta khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Bagamaina menurut Anda?