Tulisan yang anda baca saat ini merupakan kutipan dari buku PSIKOLOGI KESUKSESAN yang ditulis oleh Maulana Wahiduddin Khan, penerbit Robbani Press.

Menurut La Rochefeocauld, “Semangat yang tanggung hanya mengutuk segala sesuatu yang berada jauh melampaui posisinya.” Mempersepsikan kegagalan manusia pada umumnya, seorang penyair modern memohon dengan sangat kepada manusia, “Jangan mengkritik apa yang tidak Anda pahami.”

Masalahnya manusia cenderung untuk menilai permasalahan-permasalahan tentang bagaimana mereka memengaruhi dirinya. Mereka cepat mendukung segala sesuatu yang dapat meningkatkan posisi, atau tidak menurunkan derajat mereka dengan berbagai cara. Tetapi ketika sesuatu tampak membahayakan posisi mereka, maka mereka menentangnya, tanpa menghiraukan nilai intrinsiknya.

Sebagai contoh misalnya, kasus sekolah bangsa Arab (madrasah) yang berlaku di anak benua India. Biasanya, mereka memasukan satu pelajaran logika Aristoteles kunu dalam kurikulum-kurikulum mereka. Kita mengatakan, “logika”, atau begitulah orang menyebut sains ini, tetapi lebih akurat dengan menyebutnya “tidak logis”. Apa yang diajarkan dengan nama logika tidak memiliki keterkaitan dengan logika yang benar. Ini sangat tidak kondusif untuk mempresentasikan logika islam vis a vis dengan pendidikan modern.

Otoritas administratif dari salah satu sekolah Arab tersebut telah memutuskan dengan suara bulat untuk menarik kembali semua buku teks tentang logika klasik dari kurikulum mereka. Satu pelajaran baru tentang filsafat telah dipersiapkan, yang sesuai dengan standar akademis modern. Namun sayangnya, mereka tidak dapat mengimplementasikan keputusan ini. Mengapa? Karena guru besar logika yang ada di institusi mereka menentang mentah-mentah. Karena dia adalah seorang guru senior di sekolah tersebut, maka para administratur tidak dapat melanjutkan keputusan itu.

Seseorang tidak bisa memandang terlalu jauh hal ini. Guru besar ini hanya memiliki suatu pengetahuan tentang logika klasik; dia tidak mempunyai pengetahuan tentang filsafat modern. Dia merasa takut bahwa jika logika klasik dikeluarkan dari kurikulum, maka dia akan kehilangan statusnya di institusi tersebut. Dia akan ditinggal seperti seorang guru bahasa Prancis, yang berusaha untuk mendapatkan kedudukan di satu sekolah berbahasa Arab. Dalam masalah ini, adalah suatu kesempitan berpikir baginya dengan membiarkan ketidakamanan posisi profesinya di tengah modernisasi.

Semoga kutipan di atas memberi pencerahan bagi kita.