Tujuh belas Agustus tahun empat lima
itulah hari ke-merdeka-an kita
hari merdeka nusa dan bangsa
hari lahirnya bangsa Indonesia
mer…de…ka…

Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Cuplikan syair di atas merupakan pengingat kita bahwa bangsa Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, 62 tahun silam. Lagu yang selalu menjadi penyemangat kita pada hari ulang tahun kemerdekaan ini.

Bangsa Indonesia memang sudah ada sejak jaman dahulu. Akan tetapi, karena penjajahan yang melanda negeri ini, seakan-akan begeri kita mati dan lahir kembali sebagai negara yang berdaulat pada tanggal 17 Agustus 1945.

Perjuangan merebut kemerdekaan bukanlah perjuangan yang mudah. Pengorbanan jiwa dan raga para pahlawan kita sebagai penopangnya. Tanpa pengorbanan ini kita tidak akan mungkin memperoleh kemerdekaan yang sekarang sering disalah-artikan ini.

Jika beberapa waktu setelah merdeka adalah waktu untuk mempertahankan kemerdekaan maka sekarang adalah waktu dimana kita mengisi kemerdekaan dengan membangun bangsa tercinta ini dengan sebaik-baiknya. Bukan malah pesta pora tidak karuan. Kita tentu saja boleh menikmati kemerdekaan ini, tapi harus sambil mengisinya dengan sesuatu yang membuat citra bangsa semakin baik. Setidaknya kita masih bisa menunjukkan bahwa kita masih memiliki rasa cinta dan semangat membara untuk membela negara ini.

Tentu saja rasa merdeka ini dapat diapresiasikan dengan berbeda. Perlombaan-perlombaan yang rutin kita temui pada Agustusan ini, pun merupakan apresiasi yang bernilai positif selama tidak menimbulkan tawuran demi memperebutkan hadiah. Tetapi kita tahu bahwa yang namanya peringatan hanya beberapa saat.
Pada dasarnya semangat kemerdekaan ini mesti kita hadirkan dalam keseharian kita sepanjang tahun. Namun bukan berarti harus secara seremonial, tetapi dengan bersemangat menuntut ilmu, mencari nafkah, semangat bergotong-royong dan lain sebagainya demi kehidupan yang lebih baik.

Karena tidak mungkin bangsa kita menjadi lebih baik apabila setiap individu tidak memiliki kualitas hidup yang baik. Selama kemiskinan, kebodohan, perpecahan, KKN, kesehatan yang buruk dan masalah lain menjadi hal yang lebih dominan di negeri ini, jangan harap kita memperoleh kemerdekaan yang hakiki.

Selanjutnya, kita pun tahu dan sering dibahas oleh para tokoh dan mungkin sering dibahas di sekolah-sekolah oleh guru atau dosennya bahwa bangsa kita ini masih terjajah. Terjajah bukan dari segi kedaulatan, tetapi terjajah dalam bidang lain seperti ekonomi dan budaya. Inilah ternyata yang perlu kegigihan dan keuletan dalam menuntaskannya. Dan sekali lagi semangat kemerdekaan sangat perlu dihadirkan.

Selain kolonialisme ekonomi dan budaya yang melanda negeri ini, ternyata masalah utama datang dari dalam negeri sendiri. Betapa banyak warga negara Indonesia yang sadar atau tidak telah melakukan tindakan penjajahan terhadap bangsanya.

Birokrat-birokrat kotor yang selalu memangkas kepentingan rakyat, oknum-oknum dari aparat yang sering menggunakan wewenangnya untuk meraup untung, para pengusaha yang dengan liciknya memperdayai rakyat jelata, rasa tidak aman karena banyaknya kriminalitas dan segudang contoh lain yang sering terjadi di sekitar kita.

Tapi semua itu dapat diatasi selama mayoritas berharap perubahan bangsa ini terjadi.

Namun tahukah kita bahwa ternyata diri kita sendiri saja terjajah. Terjajah oleh sifat konsumtif kita, kemalasan kita, hawa nafsu kita, egoisme, arogan, anarki, yang semua itu adalah pangkal dari kebobrokan bangsa. Pangkal dari kehancuran Indonesia.

Untuk itu kita boleh berharap menikmati kemerdekaan senikmat-nikmatnya tetapi jangan kita lupa merdekakan diri kita, merdekakan diri kita, dan merdekakan diri kita dari segala penjajahan penyakit jiwa dan raga kita. Maka negeri yang kita cintai ini insya Allah menjadi negeri yang dicintai Allah dan menjadi negeri merdeka yang hakiki.

Mari merdeka-kan jiwa dan raga kita!

Merdeka! Merdeka! Merdeka!