Pada beberapa bulan terakhir ini hujan memang mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia. Bahkan saking hebatnya, daerah yang biasanya tidak terkena banjir pun sekarang ikut kebanjiran. Seperti di daerah-daerah jawa tengah yang marak diberitakan oleh media masa.

Namun bukan itu yang aku rasakan dari adanya hujan yang panjang dan hampir terus-menerus sepanjang hari itu. Tetapi tiada atau jarangnya nyamuk ketika frekuensi hujan tinggi. Entah kemana, yang aku rasa, biasanya setiap hari menjelang sore aku selalu sibuk meng-“gebuk” sang nyamuk yang rajin pedekate ke aku. Namu, ketika hujan sering mereka tak ada kabar sama sekali. Hanya sesekali saja dari mereka yang menyapaku.

Kini, hujan mulai jarang dan keberadaan mereka mulai terasa. Ketika aku di mesjid, mereka datang menghampiriku dengan sukarela dan penuh kerendahan hati dangan maksud ingin meminta sumbangan darah secara tidak langsung.

Apalagi kalau di halaman rumah, mereka begitu ganas seolah-olah yang tadinya datang baik-baik seakan ingin menyamun darahku beramai-ramai. Seketika itu juga jurus-jurus andalanku keluar. Gebuk sana-sini, sikat sana-sini, balur sana, balur sini, semprot sana-sini dan seterusnya sampai-sampai aku pasang bikin benteng pertahanan berupa jaring anti nyamuk yang dibeli dari pasar tradisional. Ya maklumlah aku tinggal di tempat yang binatang-binatang malam dapat dengan mudah dan leluasa masuk. Aku sih pasrah saja.

Nyamuk yang memang sangat menguntung bagi perusahaan obat anti dia. Betapa banyak pundi-pundi rupiah yang dihasilkan setiap malam dari aksi nyamuk yang memang terkadang menjengkelkan ini. Namun terkadang, dibalik itu semua terkadang kita tidak sadari bahwa Allah swt menciptakan nyamuk ternyata bersamaan dengan keuntungannya alias tiada sia-sia.Itulah sebenarnya yang patut kita pikirkan dan renungkan.