Tags

,

Satu, dua, tiga hari Ramadhan berlalu dari waktu-waktu kita. Ia datang dan pergi begitu terasa cepatnya seolah tidak merindukan kita yang menantinya dengan tulus atau munafik. Terasa, begitu banyak moment yang terlewatkan atau mungkin sengaja kita lewatkan. Padahal, kita belum melakukan berbagai amalan dengan baik; tadarus, qiyamul lail, tholabul ‘ilmu, silaturahim, dan sebagainya. Sungguh kau berlalu begitu cepat.

Keberkahan, rahmat, dan ampunan yang selalu kurindukan untuk kumiliki sebenarnya ada padamu. Karena Allah memang menitipkannya padamu, Ramadhan. Seolah kekasih yang sangat cantik atau tampan dan memiliki akhlak mulia kau terus mendampingi kami. Tentu tidak akan pernah hati ini ridha untuk kau tinggalkan. Karena engkau belum tentu dapat menemuiku di tahun yang akan datang.

Ya, Ramadhan memang sebuah waktu, dimensi yang memiliki berbagai kenikmatan yang tidak akan pernah ditemukan pada waktu-waktu lain. Itu tidak dapat dipungkiri. Untuk umat Islam ataupun selain Islam. Allah hadirkan disaat kegersangan telah melanda, sehingga tidak berlarut-larut. Dengan sejuknya hati menyambut Ramadhan, berbagi kasih, saling memaafkan, dan saling bersilaturahim. Sungguh karunia Allah yang tiada terkira. Alhamdulillah.