Angin kencang, panas terik, hujan deras berbaur menjadi satu. Rasa bimbang yang dibumbui keraguan dalam menentukan arah hidup membuat sinar mentari seakan redup, mata yang melek seakan tertutup kabut di kelopak mata. Samar-samar terdengar suara memanggil dan menyeru untuk bercengkrama, tapi entah siapa.

 

Hari-hariku habis untuk mengisi dan memikirkan musim yang tak karuan. Sampai-sampai aku lupa kalau aku harus mencinta. Semusim tidak bermakna hanya penuh dengan kesia-siaan. Padahal aku ingin semusim inspirasi biar hidupku penuh dengan motivasi dan inspirasi untuk berbagi.

 

Tidak jelas pula siapa yang harus kucinta, karena tidak ada kandidat yang berani untuk maju dan mengklain bahwa ia siap untuk menerima cintaku yang tidak jelas dan penuh misteri.

 

Misteri cinta yang akan kau rasakan begitu indah manakala kau beran untuk mengambil keputusan dan menerima (pengennya sich itu mah). Tapi tidak kemisteriusan itu akan memberi tantangan baru dan kepuasan yang tidak terkira manakala kau tahu betapa indah  dan istimewanya cintaku yang misterius. Tapi ingat, kau juga akan mendapatkan penyesalan yang tak terhingga manakala  misteri cintaku memberikan kau kekecewaan yang sangat mendalam.

 

Roda hatiku yang berputar berpacu dengan dimensi waktu dan dapat terbentengi dengan dimensi tempat dan pengkhianatan. Bukan hanya aku sich semuanya juga bisa. Setia atau berkhianat …..