Do’a dan puasa. Lihatlah kedekatan kedua ibadah ini dalam sabda Rasululloh SAW: “Tiga kelompok manusia yang tidak ditolak permohonan mereka; Orang yang sedang berpuasa sampai berbuka, pemimpin yang adil dan orang yang terdzalimi.”  (HR. Tumudzi)

Maka, tidak heran jika Alloh azza wajalla menutup ayat tentang puasa dengan firman Alloh yang berbunyi: “Dan bila bertanya kepadamu hamba-hamba-Ku, katakanlah sesungguhnya aku dekat. Aku mengabulkan setiap permohonan orang yang memohon bila mereka memohon kepadaku. Maka penuhilah seruanku dan berimanlah kepadaku agar mereka menjadi orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 186)

Dari Ibnu Abbas Ra. dikatakan, bahwa orang Yahudi bertanya: “Bagaimana Tuhan mendengar do’a-do’a kita? padahal engkau mengatakan bahwa antara kita dan langit berjarak 500 tahun dan setiap langit terselimuti dengan hal yang sama?” Setelah itu turunlah ayat ini. Berkata Al Hasan, sebab turunnya ayat ini adalah adanya seorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah Tuhan kita dekat sehingga kita bisa meminta kepadanya dengan ucapan yang pelan, atau apakah Dia jauh sehingga kita harus memanggilnya dengan ungkapan yang keras?”.

Sedangkan Atha dan Qutadah mengatakan, bahwa saat turunya ayat ini, berkata sekelompok orang, “Kapankah kita bisa berdo’a kepada Alloh?” Selanjutnya turunlah ayat ini. Khalid Ar Rib’i mengatakan, “Aku terkejut dengan ayat Al-Qur’an: “Ud ‘uuni astajib lakum” (mintalah kepada-Ku, aku pasti akan menjawab permintaanmu). Alloh swt. memerintahkan kepada manusia untuk berdo’a sekaligus berjanji mengabulkan do’a.”